Pelajar Pemalang Melestarikan Bahasa Daerah Lewat Film Pendek

Tag: festival film pelajar, festival film pendek, film pelajar, film pendek, komunitas film pelajar, komunitas film pendek

Semua tahu bahasa daerah terus terpinggirkan. Penyebabnya, yakni banyak anak muda yang tak tertarik mempelajari bahasa daerah. Apalagi makin kuat tuntutan untuk lebih mengedepankan bahasa Inggris di setiap jenjang pendidikan. Bahasa daerah juga mendapat gempuran bahasa gaul atau ”alay”.

Namun, siswa Sekolah Menengah Kejuruan PGRI 3 Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, tak tinggal diam. Untuk mengupayakan bahasa lokal tetap eksis, mereka membuat film berbahasa Jawa dengan dialek pemalangan.

Itu dilakukan peserta ekstrakurikuler (ekskul) teater sekolah. Anggota Teater Sakti (nama teater di SMK kami) yang dibina Yosi Muhaemin, guru, mencoba membuat film pendek berbahasa Jawa dialek pemalangan.

Keputusan

Berawal dari pementasan drama semimusikal pada acara pelepasan siswa kelas XII pada tahun 2012. Saat itu pemain drama menggunakan bahasa Jawa, Indonesia, dan Inggris.

Dalam pementasan itu, beberapa kalimat dalam bahasa daerah menjadi sangat populer, seperti kalimat sekola biayane larang sing bener ben dadi wong sukses (sekolah itu biayanya mahal sehingga harus sungguh-sungguh supaya menjadi orang sukses). Kalimat itu disukai pelajar dan guru karena berkesan humor tetapi mengandung nasihat.

Teater Sakti menetapkan pembuatan film pendek berbahasa Jawa dialek pemalangan dalam program kerja tahunan ekskul. Produksi film diawali riset bahasa daerah dialek pemalangan yang berbeda dengan dialek dari Yogyakarta dan Solo.

Hasil riset menunjukkan, kosakata yang muncul menyerupai dialek Tegal dan banyumasan, tetapi intonasi dan pelafalannya berbeda. Misalnya, kata rika‘(Indonesia: Anda), koe (kamu), dalam bahasa banyumasan diucapkan ko.

”Robet & Joni”

Mereka membuat film pendek berjudul Robet & Joni. Konsep cerita didasarkan pada peristiwa yang menggambarkan kearifan lokal. Nama Robet dipilih untuk menunjukkan kesan humor sehingga tak berat bagi anak muda. Selain menghibur, lakon ini juga memuat nilai cinta kelestarian alam, kebersihan lingkungan, dan kesadaran untuk belajar.

Cerita pada episode pertama (produksi Desember 2012) tentang kebiasaan pelajar membuang sisa permen karet di lantai. Film itu ditayangkan di sekolah dan di luar sekolah. Apresiasi yang cukup tinggi membuat produksi film berlanjut.

Pada Januari-Februari 2013, produksi film dilakukan di perkebunan teh Moga, Pemalang. Pesan dalam film episode itu adalah larangan berburu burung liar dan ajakan stop buang air besar sembarangan.

Itu didasarkan pada temuan bahwa banyak warga desa belum paham pentingnya menjaga sanitasi lingkungan. Dengan menggunakan bahasa daerah, diharapkan masyarakat memahami secara mudah pesan lewat film itu.

Produksi film relatif mudah dengan alat sederhana, seperti handycam, kamera digital, papan, dan styrofoam. Para pemain bergantian menjadi kru film. Editing video dikerjakan tim kreatif dari ekskul teater.

Ubah format

Selain menayangkan film, peserta ekskul juga mengubah format film agar bisa disebarkan melalui telepon seluler (ponsel). Hal ini karena banyak pelajar suka menonton lewat ponsel.

”Film ini menggelitik dengan penggunaan bahasa daerahnya. Ini belum ada sebelumnya,” ujar Puji Mardian Adisusilo, siswa SMK PGRI 3 Randudongkal, kelas XII Jurusan Teknik Kendaraan Ringan.

Selain sarat komedi, film itu juga menciptakan kalimat yang cepat populer di kalangan remaja. Ketika pergi ke warung, bahkan ke kantor kecamatan, ucapan sih mancinge nang wangan (kok memancing di parit) terdengar. Kalimat itu ada dalam film Robet dan Joni.

”Sebenarnya itu hanya celotehan humor, tetapi orang yang biasa berbahasa Indonesia pun kini mengucapkannya,” kata Desi Ade Budiman, pemain film berbahasa daerah itu.

Meski film karya siswa menggunakan bahasa daerah dialek pemalangan, warga yang tak paham pun dapat memahami ceritanya karena ada terjemahannya. Semoga lewat pembuatan film berbahasa lokal, bahasa Jawa dialek pemalangan tetap lestari.

Tim SMK PGRI 3 Randudongkal, Pemalang, Jawa Tengah: Rindi Setiana, Tanti Setiyaningsih, Riski Pangestu, Eli Setianingsih, Anisa AP, Lisa Nuraeni, Triyani, Dyah Ayu

KATA MEREKA FERI EKO ARIANTO Kelas XII SMK PGRI 3 Randudongkal

Jarang ada film pendek menggunakan bahasa daerah. Film semacam ini harus lebih dikembangkan dan tetap konsisten menggali kosakata-kosakata dialek pemalangan supaya beda dengan film pendek daerah lain.

ANISA NUR LAELI Kelas XII SMK PGRI 3 Randudongkal

Film ini tak hanya lucu, tetapi juga mendidik. Pemakaian bahasa daerah yang kental bisa memperkenalkan budaya kita kepada orang lain. Film ini bikin kita tak bosan menonton.

EDY SUMARYONO Wakil Kepala SMK PGRI 3 Randudongkal Bidang Kesiswaan

Film Robet & Joni yang berbahasa Jawa dialek pemalangan itu bagus. Film itu cukup efektif sebagai cara melestarikan bahasa daerah. Namun, di sini perlu ditambah pesan untuk membangkitkan nasionalisme.

YANTO RAHARJO Kepala SMK PGRI 3 Randudongkal

Filmnya bagus, apalagi mengangkat bahasa daerah khususnya bahasa asli Pemalang. Empat jempol buat anak-anak yang sudah ikut memelihara bahasa daerah.

Catatan:
Judul asli tulisan "Melestarikan Lewat Film Pendek". Judul disunting tanpa mengubah isi tulisan.

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2013/04/26/0333190/melestarikan.lewat...fil...